View Full Version: Siapakah Bupati-Wakil Bupati Demak 2006-2011?

Demak > PILKADA > Siapakah Bupati-Wakil Bupati Demak 2006-2011?


Title: Siapakah Bupati-Wakil Bupati Demak 2006-2011?
Description: Hasil Pilkada 2006


afs - February 27, 2006 05:07 AM (GMT)
Suara Merdeka: Senin, 27 Februari 2006 <<NASIONAL>>

-----------------------------------
Tafta-Asyiq Unggul Sementara
-----------------------------------

DEMAK- Pasangan calon bupati (cabup) dan wakil bupati (cawabup) Tafta Zani-Muhammad Asyiq unggul sementara dalam pilkada Kabupaten Demak, Minggu (26/2). Hingga pukul 22.00 penghitungan suara yang dikeluarkan KPUD, pasangan tersebut mengumpulkan 82.047 suara.

Pasangan Tafta-Asyiq yang dicalonkan PKB dan PKS itu untuk sementara mengungguli pesaing terberatnya, Endang Setyaningdyah-Nurul Huda, yang mendapat 68.940 suara.

Pasangan lain, Sutetyo-Akhmad Khoeron, meraih 25.835 suara, disusul Noer Hamid Wijaya-Ahmad Iriyanto 16.677 suara, dan tidak sah 4.881 suara.

Dalam penghitungan KPUD, peserta nomor urut 2 tersebut unggul di 10 kecamatan, yaitu Kecamatan Demak, Wonosalam, Dempet, Kebonagung, Gajah, Mijen, Bonang, Wedung, Karangawen, dan Mranggen.

Hanya Kecamatan Karangtengah dan Sayung, Tafta kalah dari pasangan Endang-Huda. Sementara itu, dua kecamatan, Guntur dan Karanganyar, hingga pukul 22.00 belum masuk ke KPUD. Dari daftar sementara, suara yang masuk dari 516 tempat pemungutan suara (TPS) sebanyak 198.380 dari jumlah total TPS sebanyak 1.469.

Dalam pemantauan, di sebagian besar TPS, Tafta unggul dalam perolehan suara. Di TPS VII Kelurahan Mangunjiwa, Kecamatan Demak Kota, tempat Tafta mencoblos, terkumpul 324 suara, sementara pasangan Endang-Huda mendapat 63 suara. Adapun pasangan Sutetyo-Khoeron dan Hamid-Iriyanto masing-masing 21 suara dan 4 suara. Bahkan, di TPS tempat tiga cabup lain mencoblos, suara yang dikumpulkan Tafta melejit.

Di TPS XI Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak Kota, yang menjadi tempat Endang mencoblos, pasangan Tafta-Asyiq meraih 304 suara, disusul Endang-Huda 68 suara, Sutetyo-Khoeron 41 suara, dan Hamid-Iriyanto mendapat 26 suara. Di tempat itu, jumlah daftar pemilih tetap (DPT) ada 531, sedangkan yang hadir ada 398 orang.

Adapun di TPS I Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak Kota, tempat cabup Sutetyo mencoblos, pasangan Tafta-Asyiq jauh meninggalkan pesaingnya dengan memperoleh 200 suara, disusul Sutetyo-Khoeron 91 suara, Endang-Huda 63 suara, dan Hamid-Iriyanto 37. Sementara 7 suara dinyatakan tidak sah.

Di TPS 10 Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak Kota, meski cabup Noer Hamid mencoblos di sana, perolehan suara Tafta-Asyiq tetap memimpin dengan angka 194 suara. Selanjutnya diikuti Endang-Huda 67 suara, Hamid-Iriyanto 38 suara, Sutetyo-Khoeron 35 suara, dan 8 suara tidak sah.

Desk Pilkada Jateng yang dipimpin Mardjijono SH turut memantau pemungutan suara di beberapa TPS. Saat berkunjung ke TPS XI di Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak Kota, Sekda Jateng itu mengatakan, secara keseluruhan proses pilkada di Demak relatif aman, meski beberapa hari menjelang pemungutan suhu politik memanas. "Pada umumnya masyarakat sangat antusias dan apresiatif menggunakan hak pilihnya dalam pilkada kali ini," kata dia.

Di tempat yang sama, pemantauan juga dilakukan Ketua KPUD Jateng Dra Fitriyah MA, anggota Komisi A DPRD Jateng Sri Rahayu Amin Sudibyo, dan Mapilu PWI Jateng yang dipimpin Wakil Ketua A Zaini Bisri.

Zaini mengungkapkan, pencalonan cabup-cawabup tidak bisa dibatalkan keikutsertaannya dalam pilkada, meski santer terdengar ada dugaan politik uang. "Yang bisa membatalkan adalah adanya kecurangan dan kesalahan dalam penghitungan suara. Adanya politik uang itu karena lemahnya sistem hukum dan undang-undang. Secara hukum masih banyak kekurangan. Karena itu, dibutuhkan kesadaran melalui etika berpolitik," kata dia.

Harus Legawa

Saat di kediamannya, Tafta menyerahkan sepenuhnya hasil pemungutan suara kepada masyarakat Demak. Secara pribadi dia berpesan, siapa saja yang nanti bakal jadi pemenang harus bisa diterima dengan sikap legawa. "Yang namanya demokrasi itu, keputusan ada di tangan rakyat. Siapa yang terpilih harus bisa menjalankan amanat rakyat," kata dia.

Lebih jauh dia mengungkapkan kesiapannya jika diberi kepercayaan rakyat untuk menjadi orang nomor satu di Kabupaten Demak. "Prioritas utama yang perlu dilakukan adalah mengurangi angka kemiskinan dan ketertinggalan Demak dibandingkan dengan daerah lain."

Endang masih optimistis memperoleh suara secara signifikan. Dari 14 kecamatan di Kabupaten Demak, dia menargetkan memperoleh 60% dari seluruh suara.

''Saya ini punya pendukung banyak. Dari 14 kecamatan, 9 saya perkirakan menjadi milik saya. Di antara kecamatan itu adalah Karangawen, Guntur, Karangtengah, dan Sayung,'' katanya.

Mengenai perolehan suara dari kecamatan lainnya, dia memprediksi sekitar 30%. Endang yang saat mencoblos ditemani dua anaknya, Alamsyah Satyanegara dan Suka Adisatya, menegaskan, siapa pun yang nanti terpilih jadi Bupati Demak periode lima tahun ke depan harus didukung. "Saya siap menang dan kalah. Tak masalah siapa orangnya, yang penting bisa tercipta suasana aman dan kondusif."

Tak Dapat Kartu

Kendati pemilihan kepala daerah langsung di Demak berjalan lancar dan kondusif, tetapi terdapat protes-protes kecil yang hampir terjadi di setiap desa. Protes tersebut rata-rata dilakukan oleh warga yang tidak mendapatkan kartu pemilih dan mereka tidak terdata dalam daftar pemilih tetap. Bahkan, di sejumlah desa terdapat anak di bawah umur yang mendaftarkan kartu pemilih. Ada pula orang yang sudah meninggal masih tercantum dan beberapa orang menerima kartu pemilih ganda.

Kenyataan itu mendapat sorotan tajam dari Ketua Jaringan Pendidikan Politik Rakyat (JPPR) Murman. Menurut dia, semestinya para petugas yang diberi kewenangan untuk mendata warga tidak menyederhanakan tugas. Apalagi mereka diberi dana operasional untuk menjalankan tugas tersebut. ''Ini menunjukkan kinerja yang kurang baik dari mereka. Bagi warga, memiliki hak pilih merupakan penghormatan. Kalau mereka tidak mendapat justru akan memunculkan keretakan dalam lingkungan masyarakat."

Dia mencontohkan di Desa Pecabean, Demak, terdapat tiga orang yang memiliki kartu dobel. Ada juga anak di bawah umur di Wedung yang mendapat kartu pemilih. Dia menyayangkan banyak warga yang tidak dapat kartu pemilih, padahal ketika pemilu dan pilpres lalu mereka terdaftar dan menggunakan hak pilihnya.

Di Desa Katonsari, Demak Kota, juga terdapat sejumlah warga yang belum terdaftar. Mereka mengadukan persoalan itu ke RT, RW, kelurahan, hingga KPPS setempat. Akan tetapi protes itu tidak menghasilkan apa-apa, karena tidak bisa mengubah daftar pemilih.

Hal serupa juga terjadi di Desa Tempuran, Kecamatan Demak Kota. Di desa tersebut sedikitnya ada delapan orang yang tidak memiliki kartu pemilih. Bahkan, sebelumnya ada informasi yang menyebutkan terdapat 300 jiwa yang tidak mendapat kartu.

Anggota KPUD Demak Hardi Winoto menjelaskan, ketika proses pendataan, masyarakat diberi waktu untuk melihat data daftar sementara apakah namanya tercantum atau tidak. Jika mereka tidak terdaftar dapat mengajukan ke RT untuk diusulkan dalam daftar pemilih susulan. ''Jadi, semestinya mereka bisa menggunakan waktu itu untuk mengusulkan tambahan daftar pemilih tetap.'' (H1,G5,fzm-46t)

http://www.suaramerdeka.com/harian/0602/27/nas03.htm




* Hosted for free by InvisionFree